Berhalo dari Penjara, Satu Menit Rp 3.000

Share:
headline_72130214-Foto-KAKI-NAPI-1Penjara perempuan Semarang kini dilengkapi warung telekomunikasi.
Para narapidana perempuan kini tak akan lagi merasa kesepian di penjara. Rindu keluarga maupun sanak-saudara bisa sedikit terobati dengan cara menelepon. Kok bisa? Bukankah telepon dilarang digunakan di dalam penjara? Ah, itu sih dulu.
Sejak Selasa (11/2), Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II A Semarang yang dihuni 207 narapidana dan 26 tahanan telah meluncurkan Wartel Keluarga Ceria yang memiliki delapan kamar bicara umum (KBU).
Wartel itu tentu saja ada di dalam penjara. Para pejabat yang hadir dalam peluncuran Wartel Keluarga Ceria itu adalah Siti Atikoh Suprianti, istri Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo; Evy Amir Syamsudin, istri Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsudin; Kepala LP Klas II A Semarang Suprobowati; dan Kepala Kanwil Departemen Hukum dan HAM Jateng Rinto Hakim.
“Keberadaan wartel itu agar para narapidana (napi) bisa berkomunikasi dengan keluarga maupun kerabatnya di luar penjara. Sarana telepon itu juga agar mereka nyaman berada di penjara. Selain itu, sarana telepon tersebut bisa meningkatkan proses asimilasi para napi,” kkata Kepala LP Klas II A Semarang, Suprobowati.
Dengan adanya wartel itu, Suprobowati berharap para napi bisa menjalin hubungan dengan orang luar. Jadi, ketika mereka keluar dari penjara, mereka bisa segera mendapatkan pekerjaan.
Keberadaan wartel di penjara merupakan hal yang baru. Ini karena belum ada wartel serupa di penjara lain di Jawa Tengah. Bahkan, kepemilikan telepon seluler di penjara dilarang keras. Itu merupakan pelanggaran yang ada sanksinya.
Tarif penggunaan telepon di penjara itu satu menit Rp 3.000. “Ya, namanya saja di LP. Tetapi, ini sudah sangat bagus bisa untuk obat rindu kepada keluarga,” kata seorang napi perempuan.
 
Dari Gaun hingga Ikan
Suprobowati menambahkan, para napi yang disebut sebagai warga binaan mendapat berbagai keterampilan. Keterampilan ini mulai dari tata boga–membuat aneka makanan, tata busana bekerja sama dengan desainer kondang Ane Avanti, hingga membuat aneka sulam dan sarung bantal yang indah.
“Kami membuat payet. Kemudian yang membentuk menjadi gaun adalah desainer,” kata Lusi. Ia membuat payet bersama Mami, Amel, Octarianti, dan Tri Utami.
Menurut Paras, karyawan dari desainer Ane Avanti, kebaya yang dihasilkan dari payet para napi dijual dengan harga Rp 2 juta. Sementara itu, gaun pengantin dengan ekor yang panjang bisa mencapai Rp 10 juta. “Konsumennya memang untuk masyarakat kelas menengah ke atas,” katanya.
Para napi juga dilatih mengolah ikan menjadi makanan yang bernilai tambah. Pihak penjara bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah dan juga Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang akan meningkatkan keterampilan para napi tersebut.
“Keterampilan itu sangat dibutuhkan agar para warga binaan (napi-red) yang telah bebas dari hukuman tetap memiliki rasa percaya diri. Keterampilan itu menjadi modal bekerja. Apalagi perempuan memang dituntut memiliki peran ganda pada saat ini,” kata Evy Amir Syamsudin.
Sumber
Berhalo dari Penjara, Satu Menit Rp 3.000 | INFO_PAS | 4.5

Berita Lainnya